Asal Usul Datu Tating - Perang Pulau Balambangan 1775
Menurut sejarah Sultan Sulu yang bernama Sultan Salahuddin-Karmat atau Pangiran Bakhtiar telah berkahwin dengan seorang gadis berbangsa Tionghoa yang berasal dari daerah Tirun (Tidong) adalah pendakatan Sultan Sulu yang inginkan mengamankan Wilayah North-Borneo (kini Negeri Sabah) setelah mendapat Wilayah daripada Sultan Brunei, salah seorang putra Sultan Salahuddin-Karmat iaitu sultan Badaruddin-I yang memperisterikan seorang Putri Tirun atau Tidong (Isteri Kedua) yang merupakan anak gadis kepada Pemerintah awal di Wilayah Tidong. (Isteri Pertama Sultan Badaruddin-I, dikatakan gadis berasal dari Soppeng, Sulawesi Selatan. Maka lahirlah seorang Putra bernama Datu Lagasan yang kemudian menjadi Sultan Sulu yang bergelar, Sultan Alimuddin-I ibni Sultan Badaruddin-I) Dari zuriat Sultan Alimuddin-I inilah dikatakan datangnya Keluarga Kiram dan Shakiraullah di Sulu.
Maka dari darah keturunan dari Puteri Tidong lahirnya
seorang putra bernama Datu Bantilan dan seorang putri bernama Dayang Meria.
Datu Bantilan kemudiannya menaiki takha Kesultanan Sulu (mengantikan abangnya
Sultan Alimuddin-I) disekitar tahun 1748, bergelar Sultan Bantilan Muizzuddin.
Adindanya Dayang Meria dikatakan berkahwin dengan seorang
Saudagar dari Tionghoa, kemudian lahirlah seorang Putra yang bernama Datu
Teteng atau Datu Tating. Mana kalah zuriat Sultan Bantilan Muizzuddin merupakan
keluarga Maharaja Adinda, yang mana waris sebenar Kesultanan Sulu mengikut
sistem Protokol Kesultanan yang digelar “Tartib Sulu”
